Jumat, 30 September 2016

AGUS YUDHOYONO BERSINAR TANPA BINTANG

Pilkada DKI memang magnet sendiri. Semua media dan social media ramai membicarakannya. Tiga kandidat sudah resmi mendaftar ke KPUD. Ada petahana Ahok - Djarot, kemudian ada penantang Anies – Sandi Uno dan Agus Yudhoyono – Sylviana Murni.
Dari 3 kandidat, nama Agus Yudhoyono paling menarik pemberitaan media dan socmed. Dari analisa pemberitaan yang dilansir Metro TV sehari setelah ketiga nama mendaftar ke KPUD, berita tentang Agus Yudhoyono mendominasi dengan 57%, Ahok-Djarot 26% dan terakhir Anies _ Uno 17% dari 3650 pemberitaaan.

Kemunculan nama Agus di persaingan pilkada DKI memang di luar dugaan. Namanya nyaris tak pernah disebut sebagai kandidat di luar nama-nama populer seperti Prof. Yusril Ihza Mahendra, Sandi Uno, Lulung, Rizal Raml, Ri, Ridwan Kamil dan nama lain. Namun, di luar dugaan banyak orang, koalisi 4 partai yang disebut Poros Cikeas ini memunculkan nama Mayor Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), putra pertama SBY, berpasangan dengan Deputy Gubernur DKI Bidang Pariwisata dan Kebudayaan, Profesor Sylviana Murni.

Nama AHY tiba-tiba ramai diberitakan. Media dan publik tidak menyangka perwira muda TNI yang cemerlang itu akan dimunculkan oleh Poros Cikeas menjadi penantang petahana, Ahok-Djarot. Sesuai UU Pilkada, calon kepala daerah yang berasal dari anggota TNI/Polri/PNS atau anggota legislatif, harus mengundurkan diri. Dengan kata lain, kalau AHY mau maju di pilkada DKI otomatis harus mengundurkan diri dari TNI. Padahal karir militernya sedang bagus. Agus saat itu menjabat Koamndan Batalyon Infanteri Mekanik Kodam Jaya di Tangerang.
Banyak yang menyayangkan hal itu. Banyak yang berkomentar, SBY tega mematikan karir militer putranya demi ambisi menjadi Gubernur DKI. Banyak juga yang menyayangkan, Agus masih terlalu muda dan belum punya pengalaman untuk maju di pilkada DKI. Pertanyaan yang wajar dari publik.
Tapi apa iya SBY tega mematikan karir miter anaknya? Oya, sebelum lanjut, kita lihat dulu track record pendidikan AHY dan karirnya di TNI. AHY lulusan SMP 5 Bandung, SMA Taruna Nusantara, Akmil, meraih gelar MSc Strategic Studies dari Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technological University. Webster University, Harvard Univesrsity, Sekolah Komando di Fort Benning dan Fort Leavenwoth, Amerika.

Saat di SMA Taruna Nusantar AHY jadi lulusan terbaik. Begitu juga di Akmil jadi peraih Adhi Makayasa sebagai lulusan terbaik. Bahkan di Fort Benning AHY juga menjadi lulusan terbaik di angkatannya. “Jadi begini, terus terang saja. Mayor Agus ini sejak SMA di taruna sudah nomor satu. Nilainya sampai sekarang belum ada yang menyaingi. Ketika lulus di akademi militer, juga memperoleh Adhi Makayasa yang belum tersaingi adalah tiga-tiganya didapat, yaitu mental fisik dan intelektual," terang Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo kepada media menanggapi pengunduran diri AHY.

Kembali ke laptop. Apakah benar SBY mematikan karir militer anaknya? Secara karir kepangkatan bisa jadi SBY mematikan karir militer anaknya. Kakek Agus seorang Jenderal TNI, ayah Agus, pak SBY juga seorang Jenderal TNI. Sementara Agus berhenti di pangkat perwira menengah, Mayor. Pangkat yang masih sangat jauh dari puncak karir seorang militer menjadi Jenderal. Dan kemudian langsung diterjunkan menjadi calon gubernur DKI Jakarta.

Publik kaget. Perwira muda cerdas dan karirnya bagus, tiba-tiba dicalonkan menjadi kepala daerah. Karir militernya berhenti. Mungkin Agus sendiri pasti bermimpi mendapatkan bintang di pundaknya. Makanya dalam pidato politik pertamanya usai mendaftar ke KPUD DKI, Agus sedikit menahan tangis. Mungkin sedih harus meninggalkan karir militernya yangs udah berjalan 16 tahun dan mungkin sedih impiannya menjadi jenderal sirna.

Tapi apakah SBY mengambil keputusan itu tanpa perhitungan? Sepenjang pengamatan saya, SBY termasuk orang yang sangat hati-hati dalam mengambil keputusan. Setiap keputusannya biasanya selalu berdasarkan data dan anlisa yang cermat dan matang. Apalagi ini menyangkut masa depan putranya sendiri. Bisa dipastikan SBY tidak asal ambil keputusan.

Di era supremasi sipil setelah reformasi, terjadi perubahan drastis dalam jalur pemasok pemimpin baik di pusat maupun di daerah. Kalau di era Orba, pemimpin daerah umumnya berasal dari ABRI (TNI sekarang) dan birokrat PNS sipil, di era setelah reformasi sumber pemimpin daerah lewat pemilihan langsung berasal dari beragam profesi. Mulai dari pedagang mebel, arsitek, PNS, politisi partai, pengusaha, dokter, dosen, notaris sampai artis dan profesi lainnya. Ada sedikit dari TNI yang biasanya sudah pensiun atau mendekati pensiun.

Sebetulnya Agus bukan orang pertama yang pensiun muda dari dinas aktif militer untuk terjun di pilkada. Ada Bupati Batang, Yoyok Riyo yang pensiun di usia 40 tahun saat berpangkat Mayor juga. Ini yang banyak tidak dipahami oleh publik, di era pemilihan langsung, siapa saja bisa maju ikut pilkada asal punya kapasitas, popularitas dan tentu saja modal. Karena harus diakui sistem demokrasi dalam pemilihan langsung ala Indonesia umumnya memerlukan modal yang cukup besar tergantung kondisi daerah masing-masing.

Dan menariknya, orang-orang dari generasi saya atau generasi di atas saya, sebagian masih berpikir dalam pola Orba. Di kepala mereka posisi gubernur itu kalau untuk tentara harus sudah jenderal. Padahal keadaan sudah berubah banyak. Hampir tak ada jenderal yang bisa jadi gubernur di era sekarang. Karena mereka kalau ikut biasanya kalah berkompetisi dengan anak-anak muda generasi di bawahnya. Lihat saja di Lampung, pengusaha Ridho Ficardo menjadi gubernur di usia 34. Artis Zumi Zola di Jambi jadi gubernur di usia 33. Tuan Guru Bajang Zainul Majdi jadi gubernur di NTB di usia 36. Jadi kalau tentara menunggu berpangkat jenderal ikut kompetisi pemilihan gubernur, dipastikan usianya sudah di atas 50 an. Sudah tidak menarik buat pemilih muda.

Di beberapa pemilihan bupati malah Bupati Bangkalan Makmun Ibnu Fuad terpilih di usia 23 tahun. Lepas dari faktor orang tuanya yang bupati sebelumnya, ada fenemona orang muda maju pemilihan kepala daerah dan menang. Suami artis Arumi Bachsin, Emil Dardak terpilih jadi Bupati Tranggelek di usia 32 tahun. Menurut walikota Bandung Ridwan Kamil yang juga tergolong masih muda, di era sekarang faktor usia dan pengalaman tidak relevan diperdebatkan dalam pemilihan kepala daerah. Karena sistem birokrasi pemerintah bisa dipelajari dalam waktu singkat. Apalagi untuk perwira TNI, mereka juga sudah akrab dengan birokrasi pemerintah ala TNI.

Dan harus diakui, TNI salah satu organisasi yang dalam penempatan jabatan atau kenaikan pangkatnya berbasis pendidikan formil yang harus dilalui di setiap tingkatannya. Jadi, SDM TNI dan Polri secara pendidikan termasuk yang harus melalui banyak tingkat pendidikan. Tidak bisa sesorang menempati jabatan tertentu kalau belum lulus tingkat pendidikan yang disyaratkan. Mereka terdidik dengan baik. Ini tak perlu diragukan.

Kembali ke kasus Agus Yudhoyono dengan melihat sederet pendidikan yang dilalui dengan predikat cemerlang plus penugasan yang hebat baik di dalam dan luar negeri, rasanya perdebatan pantas atau tidak pantas terjun di pilkada DKI sudah tidak relevan. Secara usia, banyak kepala daerah yang jauh lebih muda dari Agus sudah jadi kepala daerah, malah sama sekali sebelumnya tak bersentuhan dengan pengalaman jadi birokrat. Dan sebagian dari mereka berhasil. Jadi ucapan peneliti LIPI Ikrar Nusa Bakti yang mengatakan “Tentara ingusan mau jadi gubernur DKI,” sangat tidak relevan dan tidak pantas. Peneliti LIPI bergelar profesor kurang iqra dan kurang piknik.

Mungkin ini yang dilihat oleh SBY dalam memutuskan menurunkan Agus ikut bertarung di pilkada DKI. Kalau harus menunggu jenderal, paling tidak harus menunggu sampai usia di atas 50 tahun. Agus akan ketinggalan jauh dengan kepala daerah muda sukses seperti Ridwan Kamil, Abdullah Azwar Anas, Risma, Zumi Zola, Ridho Ficardo, TGB Zainul Majdi dan lainnya, dalam berkompetisi untuk kelak meraih kepemimpinan tertinggi. Dan kalau mundur di 2024 misalnya, Agus paling baru berpangkat Kolonel. Komentar akan sama, “Sayang nga nunggu jenderal.” Atau komentar lain, “Masih terlalu muda dan belum matang.” Lha, kapan terjunnya ke politik kalau nunggu jenderal dan matang. Capedeh.

Jadi saya pikir langkah SBY ini tepat dan cerdas. Momentum ada. Kejutan ada. Faktanya, ternyata sambutan publik positif. Ini tercermin dari pantauan percakapan di media dan social media. Begitu juga polling yang diadakan oleh banyak pihak di twitter sejauh ini menempatkan Agus selalu di posisi di atas Anies dan Ahok. Keputusan SBY yang buat sebagian pihak dianggap keliru ternyata sudah dihitung dengan cermat. Seperti saya tulis di atas, SBY selalu membuat keputusan dengan perhitungan matang dan analisa yang berbasis survey dan data. Kadang itu yang mengesankan SBY sering dinilai lamban dalam mengambil keputusan saat menjadi presiden 10 tahun.

Dan memutuskan Agus pensiun muda dari dinas militer tidak terlalu salah. Kalau pun misalnya nanti kalah, Agus sudah punya pengalaman langsung dalam berkompetisi di pemilihan langsung. Modal bagus untuk terus berkarir di politik bahkan untuk kemudian berkompetisi dengan putra putri terbaik bangsa lainnya dalam berebut tampuk kepemimpinan nasional. Kalau menunggu sampai jenderal, Agus akan kalah jauh dalam pengalaman langsung dengan pesaing lainnya. Dan mungkin sudah dilupakan publik karena kehilangan momentum.

Generasi baru yang dilahirkan oleh orang-orang tua yang besar di era Orba sudah berubah. Anak-anak yang besar di era MTV dan kemudian datang lagi generasi google dan youtube, berpikirnya sudah jauh berbeda dengan generasi saya atau generasi di atas saya. Mereka suka dengan pemimpin muda yang tidak formil, berpikir cepat dan bisa membuat terobosan baru. Cara mereka memandang pemimpin juga sudah berubah. Kalau Agus menunggu sampai berpangkat jenderal dan sudah tua, generasi baru mungkin sudah punya pilihan calon pemimpin lain.

Dan kembali soal pensiun muda, di negara-negara demokrasi maju, tentara yang pensiun muda dan kemudian berkarir di bidang sipil bukan hal yang baru. Dengan bekal pendidikan militer mereka yang hebat dan disiplin, dengan sedikit tambahan pendidikan manajemen sipil, mereka di luar sana banyak yang penisun muda dan kemudian menjadi Manager dan CEO hebat di perusahaan swasta sipil. Memang di Indonesia hal ini belum lazim. Tapi Agus bisa menjadi pemicu perwira-perwira muda yag sudah menyelesaikan wajib miiternya untuk pensiun dini dan mencoba berkarir di bidang sipil. Ini akan baik untuk struktur militer kita menjadi piramid kepemimpinan jadi ramping ke atas.
Di Indonesia saat ini terlalu banyak jenderal. Banyak perwira menengah yang posisinya diada-adakan. Alangkah baiknya ke depan, makin ke atas struktur militer makin ramping. Sehingga beban negara untuk penggajian dan tunjangan bisa dialihkan untuk mereka yang aktif sehingga bisa mendapat gaji yang lebih baik. Ini kelak bisa jadi program terobosan Agus untuk TNI.

Keputusan yang menurut saya tepat dari SBY dan Agus ini tentu masih harus diuji. Kalau seandainya Agus kelak menang dalam pilkada DKI, tantangannya adalah membuktikan kalau dia pantas jadi pemimpin sipil. Mampu membawa perubahan dan perbaikan di birokrasi sipil yang dia pimpin. Mampu mewujudkan impiannya menjadikan "Jakarta Untuk Rakyat". Dia harus bisa membuktikan gelar-gelar terbaik dalam pendidikan militer maupun pendidikan di Universitas terkenal yang dia jalani selama ini bisa membawa perubahan.

Kalau melihat beberapa video penampilan Agus dalam presentasi di beberapa seminar baik yang berbahasa Indonesia atau berbahasa Inggris, saya pribadi optimis Agus bisa membawa perubahan yang signifikan. Agus walau tentara terlihat tidak terlalu kaku seperti kebanyakan tentara. Tidak terlalu kaku seperti SBY yang berasal dari tentara yang tumbuh di era Orba yang serba kaku dan puritan.

Saran saya untuk kawan-kawan saya yang ada di sekitar Agus, jadikan Agus sekarang anak muda sipil yang lebih rileks. Sikap militer yang kaku yang masih terlihat dari gerak dan bahasa tubuhnya, harus segera diubah. Pemimpin daerah yang terlalu formil sudah tidak terlalu disukai oleh generasi milenial yang besar di era internet seperti sekarang. Ridwan Kamil adalah contoh salah satu kepala daerah yang bisa menyesuikan diri dengan era baru. Serius tapi santai. Tapi juga tidak perlu terlalu santai seperti Jokowi. Tetap dengan stylenya sendiri dan lepas dari bayang-bayang style SBY.

Rasanya, walaupun tanpa bintang di pundak, sinar Agus sepertinya akan cukup terang ke depannya. Dan kalau Allah mengizinkan, kalau kelak dia terpilih jadi gubernur dan tidak tertutup kemungkinan menjadi Presiden Republik Indonesia, Agus harus bisa membuktikan bahwa dia tidak salah pensiun muda dari dinas militer. Seperti JFK dan Putin, yang juga pensiun muda dari militer dan kemudian dikenal jadi pemimpin hebat. Dan kalau kelak jadi presiden, berarti menjadi Pangti TNI tanpa harus meniti karir lebih lama di TNI. Semoga.

BSD akhir September 2016
By Cipta Panca Laksana

*Tulisan pribadi dari warga Banten yang tidak punya hak suara di Jakarta tapi mendukung Agus sebagai salah seorang calon pemimpin masa depan Indonesia



Tidak ada komentar:

Posting Komentar